Kebekuan Yang Sukar Memaafkan
"Karena Hanya Kebekuan Yang Sukar Memaafkan"
Sedikit kutipan dari Sujiwo Tedjo yang mempunyai arti yang luas jika membacanya pelan-pelan. Banyak orang diluar sana yang mengaku tidak bisa memaafkan orang yang telah melukai harga diri dan perasaannya. Padahal sebenarnya mereka sudah saling memafkan, dan mereka ingin menyapa satu sama lain. Tapi hal itu menjadi kikuk ketika mereka saling bertemu. Hal itu terjadi karena mereka enggan untuk menyapa lebih dulu, dan tentu saja ini karena memiliki harga diri yang tidak ternilai harganya. Mereka sama-sama merasa menjadi pihak yang paling dirugikan. Tapi tahukah anda bahwa semua pihak memang saling dirugikan, kerugian mereka yang paling besar adalah mereka akan kehilangan satu koneksi yang mungkin akan membantu mereka suatu saat nanti.
Hal ini sering kita temui dalam hidup, dan yang paling sering terjadi adalah pertengkaran antar saudara. Menyedihkan melihat fakta ini memang, tapi ini adalah realita yang terjadi di dunia. Jika perselisihan itu terjadi saat balita maka orang tua mungkin harus memberikan pengertian yang benar, tapi ketika perselisihan terjadi saat dewasa dengan masalah yang lebih kompleks? bagaimana??????Mungkin jika masalah yang terjadi bukanlah antar saudara hal ini tidak akan menjadi permasalahan yang rumit. Jika kita bermasalah dengan orang yang bukan berasal dari saudara kita, biasanya hal yang terjadi adalah kita selesaikan masalah tersebut dan tidak lagi berhubungan dengan orang tersebut. Sedangkan jika dengan saudara, kita akan terus menerus bertemu dengan meraka dengan atau tanpa keinginan kita. Bahkan parahnya permasalahan bisa sampai terbawa-bawa ke anak cucu.
Ketika dewasa anak bisa melakukan hal-hal yang buruk karena kesalahan pola asuh orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Mungkin memang tidak semua kesalahan adalah karena kegagalan orang tua, sifat dan watak anak juga merupakan suatu faktor yang memicu perilaku anak pada saat dewasa, selain itu adanya dorongan dari pihak luar atau dalam hal ini teman juga turut andil dalam pembentukan karakter seorang anak.
Jika saja kita menurunkan ego kita sedikit dan mencoba mencari jalan tengan dengan kepala dingin, kita bisa saja keluar dari konflik dengan baik-baik. Sayangnya kita dewasa ini lebih sering menyudahi konflik dengan memunculkan konflik baru. Kenapa tidak mencari solusi yang terbaik dari pada harus memanaskan suasana. Kenapa kita manusia terlahir dengan ego yang tinggi? bukankah hal ini bisa menyebabkan timbulnya perselihan antar manusia? saya kira itu adalah hal normal yang mendarah daging pada setiap manusia. Hal ini bisa kita hindari apabila kita bisa menahan hawa nafsu dan menurunkan ego kita masing-masing.



Komentar
Posting Komentar